Mercusuar Sembilangan Bangkalan

Dari kejauhan, bangunan yang berwarna putih itu tampak tinggi menjulang. Di tengah sepinya kawasan di sekitarnya yang berupa daerah pantai, sosok dan keberadaan bangunan itu cukup mencolok.

Bangkalan banyak menyimpan wisata sejarah yang cukup menarik. Sebuah bangunan menjulang tinggi menyerupai menara berdiri di dekat pantai Sembilangan. Orang sekitar menyebutnya dengan istilah  LAMPU mercusuar.

Mercusuar ini terletak tidak jauh dari pusat Kota Bangkalan. Ia berdiri di sebuah desa bernama Sembilangan di Kecamatan Socah, hanya sekitar 9 KM dari ibu kota kabupaten. Ada beberapa alternatif jalan yang dapat digunakan untuk mencapai lokasi ini, namun lebih baik menggunakan jalan dari Kota Bangkalan karena kondisi jalan lebih mulus dan relatif ramai.

Pengunjung yang hendak memasuki area mercusuar dipungut bayaran kepada petugas setempat sekitar Rp. 3.000 tapi setiap kendaraan dikenakan biaya parkir yang bervariasi untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Mercusuar Bangkalan ini terbuka untuk umum bagi siapapun yang ingin menuju puncak dan melihat pesona alam.


Mercusuar Sembilangan merupakan salah satu menara suar peninggalan Belanda yang ada di Pulau Madura.

Mercusuar yang terletak di Desa Sembilangan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur tersebut sesuai dengan prasasti yang ditempel di atas pintu masuk ke dalam mercusuar dibangun pada tahun 1879 semasa Kerajaan Belanda di bawah pemerintahan Z.M. Willem III. “Onder de Regering van Z.M. Willem III Koning der Nederlanden Enz. Enz. Enz. Opgerict voor Vastlight Tweede Grootte 1879”.


Sepintas, ketika Anda memasuki pintu mercusuar untuk melanjutkan naik ke atas, Anda akan merasa di geladak sebuah kapal laut. Karena, menara suar ini terbuat dari plat besi baja dengan ketebalan dan kandungan timah yang sungguh menakjubkan.yang direkatkan satu dengan plat lainnya dari kedua arah, dan konon mercusuar peninggalan belanda di Madura hanya terdapat 2, di Bangkalan dan Sumenep. Hingga kini Mercusuar tersebut masih befungsi sebagai navigasi kapal laut dibawah kendali Departemen Perhubungan dan sering ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin menaiki hingga kepuncak dan melihat keindahan alam disekitar Desa Sembilangan yang cukup mempesona.


Rasa lelah ketika menaiki tiap anak tangga akan terasa disaat hampir mendekati puncak. Perjuangan melewati anak tangga mercusuar akan terbayar setelah melihat indahnya alam dan hilir mudik kapal serta angin yang lumayan kencang menerpa tubuh.

Dari atas mercusuar, kita bisa mengabadikan alam sekitar dengan foto menggunakan HP ataupun DSLR. Moment seperti ini biasanya menjadi incaran pecinta fotografi landscape professional, selain dari atas puncak moment fotografi bisa diambil saat sore hari ketika matahari mulai terbenam.
Tetap perhatikan keselamatan diri dan orang lain selama didalam mercusuar, utamanya diatas puncak agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Tak hanya dalam urusan fotografi alam, terkadang keindahan panorama disekitar Mercusuar ini digunakan untuk foto Prewedding ataupun foto model oleh para pecinta fotografi lokal ataupun turis dari luar madura seperti surabaya dan daerah lainnya.


Plat baja tersebut bertumpu pada kerangka baja yang disusun per ruangan lantai. Sedangkan dalam merangkaikan per ruangan, dibantu dengan baut yang lumayan besar. Hanya sayangnya, lempengan baja yang ada sekarang, banyak dipenuhi corat-coret oleh ulah vandalisme alias tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.

Setiap lantai terhubung dengan tangga melingkar dan masing-masing lantai terdapat dua jendela. Menara memiliki kolom penyangga berdiameter 1,5 – 2 meter, dan tembus terhubung sampai lantai 16 di mana terdapat panel pengoperasian lampu. Dahulu kolom penyangga ini digunakan sebagai tempat mengerek karbit atau minyak tanah ketika masih belum ditemukannya lampu pijar. Sekarang sudah tidak lagi digunakan karena telah memakai kabel listrik sehingga penjaga mercusuar cukup menyalakan lampu dari lantai bawah saja.

Mercusuar Sembilangan ini dulunya merupakan menara dengan sumber cahaya di puncaknya yang berfungsi untuk membantu navigasi kapal laut, sekaligus untuk mengontrol jalur Selat Madura di masa penjajahan Belanda.

Namun, karena saat ini navigasi kapal laut telah berkembang pesat dengan bantuan GPS, jumlah mercusuar di dunia telah merosot menjadi kurang dari 1.500 buah. Mercusuar biasanya digunakan untuk menandai daerah-daerah yang berbahaya, misalnya karang dan daerah laut yang dangkal.

Berbagai destinasi alam disajikan. Sejauh mata memandang dari atas menara suar, Anda akan dimanjakan oleh pemandangan asli daerah sekitar.

Terlihat dari atas pantai yang luas, tanaman-tanaman bakau yang tumbuh dan semilir angin yang segar. Bahkan lalu lalang kapal laut di Pelabuhan Gresik maupun Selat Madura bisa disaksikan juga.

Hal ini menjadi satu bukti bahwa mercusuar tersebut memiliki daya pikat. Apalagi areal sekitar 50 x 100 meter tempat mercusuar berdiri kokoh, dikelilingi deretan pohon peneduh yang rimbun dan hijau. Nuansa alam seperti itu, cukup nyaman untuk tempat bersantai.

Kendati telah berusia 137 tahun, namun secara keseluruhan besi baja yang membentuk struktur menara suar ini sungguh menakjubkan, masih kokoh berdiri dan masih berfungsi serta dikelola dengan baik hingga kini.

Saat ini, mercusuar dijaga oleh 3 orang penjaga berstatus PNS Adpel Tanjung Perak yang setiap tiga bulan akan dilakukan rotasi.